Breaking News

Alat Peraga KJSA 2014 Dapat Dilihat di PP-IPTEK


Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) bekerja sama dengan PT Kalbe Farma Tbk menyelenggarakan acara Serah Terima Alat Peraga Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2014. Kegiatan ini dilaksanakan di PP-IPTEK Taman Mini Indonesia Indah pada Rabu, 17 Desember 2014.
KJSA adalah ajang lomba karya sains untuk siswa tingkat sekolah dasar di Indonesia. Program ini dimulai sejak tahun 2011 dan dilaksanakan terus setiap tahunnya. Bidang yang dilombakan meliputi sains, baik IPA, Matematika, Teknologi, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan sains.

Dalam kegiatan ini terdapat 9 alat peraga yang diserahkan pihak PT Kalbe Farma, Tbk kepada PP-IPTEK. Alat-alat peraga ini berasal dari karya para pemenang KJSA 2014. Alat peraga ini pun menambah koleksi di PP-IPTEK sehingga memberikan pembelajaran baru untuk para pengunjung.  Serah terima alat peraga dilakukan oleh Direktur PT Kalbe Farma, Tbk, Vidjongtius kepada Direktur PP-IPTEK, Ari Hendrarto Saleh. Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten Deputi Iptek Masyarakat Kemenristekdikti, Ahmad Dading Gunadi dan Asisten Deputi Jaringan Iptek Pusat dan Daerah, Sudiyatmo.



“Dari KJSA 2014 ini diharapkan dapat menginspirasi putra putri Indonesia sejak dini,” ucap Vidjongtius dalam sambutannya.

KJSA 2014 diikuti oleh 618 karya sains dari 219 sekolah dasar di seluruh Indonesia. Dengan seleksi yang cukup ketat, terpilihlah 9 karya sains terbaik. Kesembilan karya sains alat peraga itu ialah sebagai berikut.
  1. Alat Penyunggi Modifikasi, karya Seto Bayu Aji Langlang Jagad dan Ridwan Kuasa Samudra Singajaya, dari SDN Kebon Pedes 1, Bogor. Ide pembuatan karya ini karena melihat banyak pedagang yang membawa barang dagangan diletakkan di atas kepala. Dengan alat ini barang yang dibawa terasa lebih ringan, tidak mudah jatuh, lebih bebas memutar kepala tanpa harus menggerakkan seluruh tubuh dan tangan dapat leluasa bergerak. Alat penyunggi ini bermanfaat untuk memudahkan penggunanya, dibanding menyunggi tanpa menggunakan alat, serta lebih aman untuk kesehatan dalam penggunaan rutin jangka panjang.
  2. Almami Kucingku, karya Maghfira Wahyu Febrianty, dari SDN Jember Lor 01. Ide karya ini berawal dari kekhawatiran peneliti pada kucing peliharaannya, saat peneliti dan keluarganya tidak ada di rumah. Alat ini berguna untuk memberi makan kucingnya tanpa bantuan pemiliknya dan makanan instan kucing tetap renyah. Cara menggunakan alat ini, yaitu papan bawah diinjak oleh kucing sehingga tali yang dihubungkan pada kotak dalam menarik pegas yang terhubung pada kotak dalam sisi yang berlawanan merenggang sehingga mendorong makanan untuk jatuh ke tempat makan kucing.
  3. Implementasi Gaya Gesek dan Tekanan dalam Pembuatan Robot Pemanjat Tiang, karya Farrel Hung, dari Robo Buddy Robotic School, Bandung. Awal munculnya ide pembuatan karya sains ini, ketika melihat lampu penerangan jalan yang padam di kompleks sehingga membuat jalan gelap saat malam. Robot pemanjat tiang ini mampu memanjat dengan kecepatan sekitar 80 cm per menit. Robot ini pun berhasil merealisasikan memanjat tiang dengan menerapkan konsep gaya gesek dan tekanan. Manfaat alat ini adalah untuk mencapai daerah yang sulit seperti tiang atau pohon tinggi, serta dapat mengurangi risiko yang dapat mengancam keselamatan.
  4. Lengan Peniru, karya Najiyah Nurul Faizah dan Nur Alfia Rahmah, dari SD Insan Kamil, Bogor. Hasil dari percobaan dan pembuatan alat pantograf ini disimpulkan perbandingan panjang lengan kuasa dan lengan beban berpengaruh pada gaya yang diberikan maupun gaya yang dihasilkan, artinya pada percobaan I dan II mekanisme ini akan berpengaruh pada hasil salinan gambar yang dibuat. Alat ini bermanfaat untuk membantu memahami prinsip kerja pengungkit dan penerapan sifat-sifat bangun datar pada sebuah pantograf, mengembangkan pemahaman tentang mekanisme alat gerak robot sederhana berdasarkan prinsip tuas/pengungkit untuk pengembangan ilmu pembuatan robot sejak kecil demi kemajuan bangsa Indonesia.
  5. Pelapis Helm Herbal, karya Edward Pandji dan David, dari SD Intan Permata Hati, Surabaya. Alat ini bermanfaat untuk membuat suatu produk yang berfungsi menyerap keringat dari bahan-bahan herbal tradisional yang banyak terdapat di Indonesia. Penelitian ini memberi pengetahuan baru pada masyarakat bahwa herbal tradisional dapat dipergunakan sebagai salah satu produk pendukung alat olahraga. Pelapis helm herbal ini pun tidak membahayakan kulit kepala dan rambut.
  6. Sajadah Detektor Shalat (SDS), karya Eveline Maghfiryani Azzahra, dari SD Islam Al Azhar 29 BSB, Semarang. Ide pembuatan alat ini karena sering mengalami dan mengamati ibadah shalat yang bingung karena salah menghitung jumlah rakaat shalat. Inspirasi lain peneliti pun muncul saat bermain basket di timezone, skor angka di ring basket dipakai untuk penanda rakaat di sajadah dan terciptalah Sajadah Detektor Shalat (SDS). Manfaat alat ini adalah memberikan fasilitas agar dapat menjalankan ibadah shalat dengan benar, membantu guru dan imam shalat dalam memimpin shalat agar lebih konsentrasi dan tidak salah dalam menghitung jumlah rakaat shalat, serta memperkecil kesalahan.
  7. Sikat Gigi Ajaib Berindikator Gerakan Menyikat, karya Laurentia Holly dan Chelsea Victoria, dari Sekolah Kuntum Cemerlang, Bandung. Alat ini dibuat karena kesadaran pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Menyikat gigi dengan baik dan benar merupakan salah satu cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hasil dari alat ini dengan mencoba melakukan gerakan menyikat gigi, warna cairan akan berubah dari bening menjadi biru sesuai gerakan menyikat, dan akan kembali menjadi bening setelah didiamkan.
  8. Sistem Otomatis Pemberi Tekanan Pada Alat Tugal, karya Pebri Kristian Yafet dan Minarti, dari SDN 09 Nanga Lungu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ide pembuatan karya ini karena hampir seluruh warga di desa tempat tinggal peneliti bekerja di ladang menanam padi dengan cara menugal. Menugal adalah cara tradisional suku Dayak untuk menanam padi. Manfaat alat tugal ini memberikan sebuah dorongan yang cukup berpengaruh sehingga lubang yang dihasilkan lebih dalam.
  9. Toilet Flush Indikator, karya Tomoji Hamay Kusuma dan Dhafin Fadhlan Kamal, dari Sekolah Kuntum Cemerlang, Bandung. Ide pembuatan alat ini karena kebiasaan lupa membersihkan toilet setelah digunakan. Hasil dari alat ini, yaitu ketika seseorang duduk di atas kloset, maka tombol akan tertekan ke bawah mengaktifkan jaringan indikator. Ketika orang tersebut berdiri, indikator akan menyala dan berbunyi. Oleh karena itu, manfaat Toilet Flush Indikator ini untuk mengingatkan orang sesudah BAB karena mengeluarkan suara agar menyiram klosetnya.




Dari kesembilan karya sains tersebut, Sajadah Detektor Shalat (SDS) sebagai Pemenang Favorit KJSA 2014. Karya ini memang paling menarik perhatian.

“Mudah-mudahan ke depannya akan terus berlangsung. PP-IPTEK menerima hasil kreasi dari para pemenang. Ada 9 alat peraga yang nantinya akan menjadi sesuatu yang menarik dan meningkatkan keingintahuan anak-anak untuk mendalami sains,” ungkap Ari Hendrarto Saleh.

Tidak ada komentar

Index Labels