Breaking News

SEKILAS GUANGDONG SCIENCE CENTER DAN HASIL ASPAC CONFERENCE 2011 DI NEGERI PANDA

Mau tahu dimana Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Science Center) terbesar di Dunia saat ini ? Lalu bagaimana perkembangan Science Center di Asia Pasifik dan apa saja yang menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan konferensi tahunan ke-11 ASPAC 2011 di China ?

Guangzhou adalah kota yang memiliki semangat olahraga luar biasa. Kota ini pernah menjadi tuan rumah Asian Games ke-16 beberapa waktu yang lalu dan masih sangat terasa nuansa peninggalan Asian Games tersebut. Pemandangannya yang indah dan asri kaya akan warisan sejarah dan budaya. Disinilah berdiri sebuah bangunan megah yang memiliki area seluas 450.000 meter persegi. Bangunan ini lebih dikenal dengan “GUANGDONG SCIENCE CENTER” yaitu Gedung Pusat Sains dan Teknologi terbesar di dunia-saat ini.

Think BIG ! itulah kesan pertama yang dihadirkan oleh Guangdong Science Center. Bangunan besar ini terdiri dari 8 ruang peraga utama yang sangat luas, bioskop sains 4 dimensi, 2 laboratorium terbuka yang bisa digunakan untuk umum, dan ruang digital untuk keluarga. Semuanya dilengkapi dengan peralatan multimedia, audio visual, televisi high definition layar datar dan lebar, serta komputerisasi super canggih abad ini. Kemasan ruang dan tata cahaya eksotik menambah warna dan gairah bagi para pengunjung untuk asyik mengeksplorasi fenomena alat peraga yang disajikan.

Desain bangunan tampak seperti kapal luar angkasa raksasa yang mengambang di sungai, seolah-olah menunjukkan bahwa teknologi ilmiah akan terus berkembang di masa depan. Dilihat dari udara, gedung terlihat seperti bunga bombax (Bombax Flower) dengan 5 daun yang umum di China. Bunga ini mencerminkan karakteristik lokal Guangzhou (bunga adalah wajah Guangzhou). Delapan ruang pameran utama yang terdiri dari Childrens World, Experience and Discovery, Transportation World, Digital World, Green Home, Flight Dream, The Human Body and Health, Perception and Thinking ternyata didistribusi dengan apik ke-5 daun dengan masing-masing daun terdiri dari 2 ruang. Lalu bagaimana dengan ruang yang terakhir ? Wow ! ternyata ruang tersebut adalah bioskop besar seperti Imax Keong Emas di TMII, bedanya bioskop ini lebih sepktakuler karena film yang disajikan adalah 4 dimensi sehingga sebagai penonton -seolah-olah- menjadi bagian dalam peran yang dimainkan, dan ketika itu diputar film tentang perbaikan satelit ruang angkasa oleh para astronot Amerika (NASSA).

Di Guangdong Science Center kita bisa melihat berbagai hal tentang sejarah Sains dan Teknologi mulai dari teknologi terkini hingga teknologi masa depan. Belajar tentang hasil karya cipta para penemu tingkat dunia seperti Einstein, Newton, Leonardo da Vinci dan tokoh fenomenal lainnya. Dan yang fenomenal lagi, gedung yang dibangun dengan dana ±Rp. 2,5 Trilyun - konon dibiayai penuh oleh pemerintah China, dan terletak di kompleks Universitas Kota di Guangzhou, China, kali ini bertindak sebagai tuan rumah ASPAC Conference 2011.

Hajat besar tahunan Konferensi Jaringan Pusat Sains dan Teknologi se-Asia Pasifik (ASPAC Conference) ke-11 kembali digelar. Perhelatan akbar ini berlangsung dari Tanggal 17-21 Mei 2011. Sukro Muhab (Direktur), Hendra Suryanto (Kepala Divisi Operasi), M. Husni Thamrin (Kepala Sub Divisi Keuangan) dan Ihsan Surur (Staf Pengembangan Peragaan) berkesempatan untuk mewakili Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) Kementerian Riset dan Teknologi sebagai delegasi Negara Republik Indonesia. Konferensi ASPAC kali ini mengambil tema “Misi Pusat Sains & Museum Modern : Peluang dan Tantangan”. Kegiatan diisi dengan orasi ilmiah Sains dan Teknologi dari para pakar pembicara utama diantaranya : Dr. Lynn D. Dierking-Sea Grant Professor in Free-Choice Learning America, Ms. Wei Yu-Vice President of CAST Academician of CAE China, Dr. Jon D. Miller-The founder and Director of The Longitudinal Study of American Youth (LSAY) America, dan Mr. Zhao Zhongxian-Vice President of CAST China.

Selain keynote speech juga terdapat beberapa sesi paralel dengan beberapa sub tema berbagi pengalaman dalam berinovasi dan memanfaatkan peluang, baik dalam operasional maupun manajemen Science Center guna meningkatkan pengembangan pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang profesional di negara-negara Asia Pasifik. Konferensi kali ini diharapkan dapat mengilhami pemikiran-pemikiran tentang bagaimana pusat-pusat ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang secara berkelanjutan untuk memikul tanggung jawab sosial di era sejarah baru.

Mengawali kegiatan ASPAC Conference 2011, sebelum dilakukan acara pembukaan seremonial diselenggarakan Kegiatan Pre-Workshop dari beberapa wakil Science Center dengan berbagai tema menarik diantaranya ; Open laboratory (Guangdong Science Center), The Application of Generic Systems in Science Exhibits (The Hongkong Science Museum), Evaluation (Petrosains Sdn Bhd,Malaysia). Selain kegiatan pemanasan tersebut, diselenggarakan pula momen khusus bagi para pemimpin seluruh Science Center keanggotaan ASPAC dalam forum General Council Meeting yang dipimpin oleh Dr. Mamoru Mohri (ASPAC President-Chief Executive Director Miraikan, Japan). Dalam forum tersebut seluruh pemimpin Sicence Center saling berbagi informasi tetang kegiatan unggulan di masing-masing Science Center yang dipimpinnya. Pemimpin PP-IPTEK dalam kesempatan ini menyampaikan tentang pengembangan Sarana dan Prasarana (Ruang Pameran, Alat Peraga dan Unit-unit Layanan) yang tertuang dalam bentuk materi Master Plan dan Bussniess Plan yang akan dilaksanakan mulai tahun 2012 dengan dukungan pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi. Di samping kegiatan pengembangan sarana dan prasarana, kegiatan unggulan PP-IPTEK lainnya yang tengah dikembangkan adalah program Gifted Centre dan pembentukan Organisasi Asosiasi Science Center seluruh Indonesia.

Di kesempatan lain dalam forum diskusi dan sharing pengalaman di ajang konferensi kali ini, PP-IPTEK secara khusus bersama dengan beberapa anggota Science Center ASPAC (New Zealand, Jepang, China dan Malaysia) diminta untuk berbagi pengalaman dalam penanggulangan bencana gempa dan tsunami dengan tema “Natural Disasters and the Science Center-How Should We Respond ?” Mengingat belum lama ini tepatnya pada 11 Februari 2011 gempa berkekuatan 6,3 skala richter telah mengguncang kota kedua terbesar di New Zealand, Christchurch, dan meluluh lantakkan bangunan-bangunan termasuk Science Center yang dikepalai oleh Neville Petrie (Director of New Zealand Science Center) yang juga ikut berbagi kisah tentang kejadian tersebut. Hendra Suryanto Kepala Divisi Operasi PP-IPTEK menyampaikan presentasinya tentang peran Pusat Peragaan Iptek (Science Center) dalam mengembangkan kesiap-siagaan masyarakat untuk menghadapi gempa dan tsunami. PP-IPTEK berperan aktif dalam program ini melalui berbagai kegiatan peragaan dan program interaktif tentang gempa dan tsunami di PP-IPTEK. Tujuan program adalah mengembangkan pemahaman, kesadaran dan kesiapsiagaan tentang potensi dan fenomena gempa dan tsunami. Presentasi yang berjudul The Role of Science Center on Earthquake and Tsunami Community Preparedness berisi tentang revitalisasi pasca bencana Tsunami Aceh dengan menampilkan tayangan-tanyangan gambar bagaimana upaya pemerintah Indonesia dan negara-negara yang membantu untuk pembangunan kembali Aceh. Pada akhirnya Aceh dapat kembali tertata, baik fasilitas, sarana dan prasarana serta kehidupannya. Disampaikan pula bahwa di Aceh telah berdiri sebuah museum tsunami yang baru saja diresmikan dan berisi replika serta artefak yang dapat mengingatkan kembali kejadian tsunami sehingga masyarakat Aceh khususnya dan kota-kota lain di Indonesia dapat belajar untuk senantiasa waspada dan tanggap jika akan terjadi kembali bencana serupa. Selain Indonesia, Malaysia yang diwakili oleh Teuku Nasariah Ibrahim (CEO Petrosains-Malaysia) juga menyampaikan pengalamannya dalam kegiatan bersama berbagi untuk mengembalikan trauma anak-anak dan keluarga pasca gempa di New Zealand dengan menggelar Travelling Exhibition bekerja sama dengan Science Center New Zealand. Tak ketinggalan pula berbagi pengalaman dari wakil National Museum of Emerging Science and Innovation- Miraikan Jepang, Yuko Okayama yang mengisahkan tentang terjadinya gempa dan tsunami di Jepang beberapa waktu yang lalu dan bagaimana sistem peringatan dini di Jepang dilakukan dan diterapkan oleh pemerintah dan masyarakatnya sehingga dapat menekan jumlah korban jiwa.

Selain tema khusus tersebut, sesi konferensi juga diisi dengan diskusi dan sharing berbagai hal tentang inovasi dan kreativitas dari masing-masing anggota Science Center ASPAC, mulai dari pengembangan peraga sederhana hingga peraga yang bermuatan teknologi tinggi. Selain itu juga banyak informasi pengembangan program kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing Science Center dengan tema-tema yang unik dan asyik. Dari Indonesia selain Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK), terdapat pula dua wakil delegasi lainnya yaitu Joko Santoso (Kepala Puspa Iptek Sun-Dial Padalarang Bandung) dan Nia Dianti (Staf Pengembangan Program Puspa Iptek Taman Pintar Yogyakarta). Ihsan Surur dan Nia Dianti adalah peserta yang beruntung mendapatkan Program ASPAC Fellowship dengan menyampaikan materi masing-masing bertemakan “Preparednes Influenza” yang merupakan tindak lanjut dari kerja sama pengembangan wahana peraga Flu Burung kerjasama antara PP-IPTEK dan GIZ Jerman dan Zona Nambahi “a Zone to Reward and Motivate” yang merupakan pengembangan dari program kegiatan di Taman Pintar Yogyakarta.

Tindak lanjut dari hasil ASPAC Conference kali ini adalah menjadi rujukan dalam pelaksanaan dan realisasi program Master Plan dan Bussiness Plan PP-IPTEK, meningkatkan kerja sama Luar Negeri khususnya dengan beberapa Science Center dalam rangka on the job training (OJT) atau program pemagangan bagi staf PP-IPTEK seperti kerja sama dengan China Science Technology Museum (CSTM) dalam waktu dekat, program kerja sama Kunjungan Wisata Iptek ke beberapa Science Center bagi para pelajar Indonesia, dan melakukan pendekatan intensif ke lembaga-lembaga pemerintah terkait dan swasta untuk bersama-sama peduli dalam pengembangan PP-IPTEK dan PUSPA IPTEK Daerah. (mht/ppiptek).

Tidak ada komentar