Breaking News

Pusat Hakteknas ke-21 di Kota Solo, PP-IPTEK Turut Menyelenggarakan Science for All Solo

Dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-21, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang pada tahun ini berpusat di Solo. Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) yang merupakan bagian dari Kemenristekdikti berpartisipasi untuk mendukung kegiatan tersebut dengan melaksanakan Science for All (SFA) pada tanggal 2-4 Agustus 2016.
                                      



SFA merupakan kegiatan pembelajaran iptek bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, melalui beberapa pendekatan iptek seperti diskusi, kompetisi, science activity, science performance, serta kegiatan-kegiatan inquirylainnya. Kegiatan SFA dilaksanakan bekerja sama dengan instansi di daerah tempat diselenggarakannya kegiatan, di mana dalam kesempatan ini adalah dengan Pemerintah Kota Surakarta.Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan, yaitu Pameran Alat Peraga/Peragaan Iptek Keliling (PIK), Workshop Guru, Workshop Siswa SMP, dan Workshop Siswa SMA.

PIK diadakan di Gelora Bung Karno (GBK), Stadion Manahan, Solo. Pada kegiatan tersebut PP-IPTEK menampilkan 30 alat peraga dan 2 (dua) alat peraga tambahan yang menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang, yaitu Gyroextreme dan Generator Van De Graff.Selain menampilkan alat peraga, PIK ini juga dilengkapi dengan berbagai percobaan sains yang menggunakan alat dan bahan sederhana untuk mengungkap serta menjelaskan fenomena sains dalam kehidupan sehari-hari.

Antusias para guru dan siswa/i pada kegiatan PIK sangat tinggi, mereka bersemangat memainkan alat peraga yang tersedia dan tidak sedikit juga yang bertanya tentang manfaat dari alat peraga tersebut. Antusias mereka juga dapat terlihat dari banyaknya peserta yang hadir pada 3 hari pelaksanaan kegiatan yaitu sejumlah 5.068 orang.

Selain PIK terdapat juga workshop sains. Workshop sains diawali dengan workshop guru dengan tema Pendidikan Berbasis Risetini bertujuan agar guru dapat mengajak siswanya untuk berpikir secara ilmiah melalui riset-riset sederhana. Riset-riset sederhana yang jelas tujuannya dapat memotivasi siswa untuk belajar dan terus mencari tahu. Dengan riset-riset ini, mereka berlatih berpikir dengan kaidah yang benar seperti menggunakan metode ilmiah. Salah satu contoh riset sederhana yang digunakan dalam workshop ini adalah spectrophotometer yang penggunaannya memanfaatkan teknologi yang familiar bagi peserta: smartphone. Pembicara workshop ini adalah Janto Sulung Budi, Dosen Universitas Katolik Parahyangan.Workshop ini dilaksanakan di SMK N 2 Surakarta dihadiri oleh 150 guru dari 50 sekolah yang berada di wilayah Solo.





Hari berikutnya, diadakan workshop Pembuatan Roket Air yang diikuti siswa SMP dibawakan oleh Feti Anita, Kepala Sub Divisi Program Pendidikan PP-IPTEK di Solo Techno Park ini diikuti oleh 200 siswa dari 40 sekolah di wilayah Solo. Dalam workshop ini, siswa diajarkan untuk membuat roket air dengan menggunakan peralatan-peralatan yang dapat ditemukan dengan mudah di sekitar mereka, seperti botol minuman bersoda. Melalui workshop ini pula siswa belajar mengenai variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kestabilan terbang sebuah roket, seperti bentuk dan jumlah sayap yang digunakan, serta variabel yang menentukan ketepatan roket dalam mencapai target yang ingin dicapat seperti sudut elevasi, volume air serta tekanan yang diberikan.Workshop pembuatan roket air dalam rangkaian SFA Solo ini juga merupakan langkah awal sebelum para peserta mengikuti Kompetisi Roket Air Regional Solo untuk mendapatkan kandidat pemenang yang dapat mewakili wilayah ini dalam ajang Kompetisi Roket Air Nasional di Jakarta.

Hari terakhir, diadakan workshop siswa SMA dilaksanakan di SMK N 2 Surakarta dengan diikuti oleh 100 siswa dari 20 sekolah yang berada di wilayah Solo. Terdapat dua kegiatan yang diikuti oleh siswa, yaitu Bincang Sains Populer (Binokuler) bertemakan Perkembangan Teknologi Satelit di Masa Ini yang dibawakan oleh Sadyatmo serta Space Workshop oleh Sri Wahyu Cahya Ningsih. Dari dua kegiatan tersebut siswa belajar mengenai satelit, mulai dari sejarahnya, baik nasional maupun internasional, perkembangannya, serta pemanfaatannya untuk masyarakat luas seperti komunikasi dan pemetaan. Siswa juga dapat lebih memahami bagaimana cara kerja Global Positioning System (GPS) yang dengan menggunakan metode triangulation serta bantuan informasi yang diberikan oleh satelit dapat menentukan sebuah lokasi. Dalam workshop ini pula siswa belajar memanfaatkan teknologi smartphone untuk menentukan sebuah lokasi yang koordinatnya belum diketahui, ataupun sebaliknya.

Tidak ada komentar